Kisah Cintaku yang Biasa
February 18, 2010
Dia, memang seorang yang paling indah yang pernah kukenal. Seorang gadis cantik dengan rambut sebahu yang mempunyai bola mata yang indah, serta bibir yang sangat manis. Ketika membayangkan saja rasanya hati ini sudah tenang. Inikah cinta yang sebenarnya? Ah, aku juga tidak mengerti hingga suatu saat…
“Jangan pernah ganggu pacarku lagi!!!”, ujar seorang cowo dari seberang. Aku termangu menerima suara itu. Ya, ternyata aku selama ini pacaran dengan seorang cewe yang telah dimiliki oleh orang lain. Hati hancur dan kacau serasa bercampur menjadi satu saat itu. Aku kembali ke kamarku. Tak perduli apapun di malam itu. Hanya meringkuk di atas tempat tidur. Tak perduli sapaan teman-teman lain bahkan teman sekamar di asramaku. Kata-kata itu masih terngiang di telingaku. Perasaan kesal karena tidak mengetahui yang sebenarnya, perasaan malu, perasaan sedih karena cintaku selama ini bertepuk sebelah tangan. Apa salahku TUHAN???
Pagi menjelang, aku masih belum bisa melupakan kejadian kemarin. Rasanya, ingin kuhancurkan seluruh dunia agar merasakan hal yang sama dengan yang kurasakan. Rasanya, aku ingin orang seluruh dunia mengetahui apa yang kurasakan. Tapi, apa daya mulut ini kelu untuk menceritakannya.
Entah kenapa, aku mulai mengutak-atik hape dan melihat contact list yang ada. Perhatianku tertuju dengan nama seorang cewe. Cewe yang membuatku jatuh cinta pertama kali pada pandangan pertama. Memang bukan dia cewe pertama yang bisa bikin aku jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi kali ini lain. Rasa tenang yang ada ketika aku melihat dia, duduk di hadapanku dan berbicara denganku sambil tersipu. Kenangan ini akan terus kuingat sampai sekarang. Caranya berbicara, berjalan bak bidadari yang menyamar menjadi manusia. Senyumnya. Tawanya. Semuanya indah bagiku. Setelah aku mendapat bio datanya ketika dia mendaftar di kampusku, aku sengaja “mencuri” nomor hapenya. Aku simpan di contact listku.
Kenangan itu terkenang kembali ketika kulihat namanya di contact listku. Kutarik nafas dalam-dalam, “Seandainya aku mengenalmu lebih dahulu, mungkin kejadiannya tak seperti ini”, kataku membatin sambil mencoba mengatur nafas.
Kucoba mengirimkan pesan singkat. “Hai, boleh kenalan? Masih ingat denganku? Yang kemarin ketemu di tempat pendaftaran..” sambil berharap cemas menunggu balesannya. Ternyata dia membalas dengan mengatakan masih mengenalku. Sedikit senang terpancar karena pesanku terbalas. Patahnya hati ini sedikit terobati.
Kami pun mulai cerita banyak. Mulai dari aku putus dan dia putus. Kakak kelasku ternyata tetangganya. Banyak lagi cerita yang kami ceritakan selama kami bersms ria. Rasanya perasaan sedihku ikut larut dengan kebahagiaan ketika aku bersmsan dengannya. Kami bersms ria sampai panjang bahkan malamnya aku sudah mulai bisa tertidur.
Keesokan paginya, aku mulai ngesms dia. Melanjutkan pembicaraan yang kemarin dan yang akhirnya merembet ke masalah lain. SMSan terhenti karena aku harus masuk kuliah. Begitu selanjutnya kami melanjutkan hubungan pertemanan kami.
Tak terasa, hubungan kami sudah berjalan lama. Ada banyak kejadian yang terjadi, salah satunya ketika aku memutuskan untuk berhenti berteman dengan dia. Ya, aku cape dengan statusku. Aku pengen aku punya status jelas. Apa hanya temen atau sebagai temen spesial.
Aku mencoba menanyakannya kepada dirinya, apakah aku baginya. Tapi dia menjawab hanya menganggapku sebagai teman. Aku sedih dan kecewa mendengar jawaban seperti itu. Di dasar hatiku aku menjawab, “Apakah kamu tidak tahu bahwa dari dulu aku mendekatimu karena aku sayang kamu?”. Serasa dunia berhenti berputar sesaat.
Aku memutar otak. Aku berpikir apa yang harus aku lakukan sekarang. Semua harapanku musnah. Aku tidak mempunya apa-apa lagi yang harus diperjuangkan. Cintaku ternyata bertepuk sebelah tangan. Ingin rasanya, menyanyikan lagu “Pupus”nya Dewa seharian. Ini sudah menjadi kebiasaanku apabila lagi patah hati mendengarkan lagu ini.
Aku berpikir keras beberapa saat. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi jauh darinya. Aku memutuskan untuk tidak mencintainya lagi. Aku pasrahkan semua. Biarlah cinta ini mati bersama kesedihanku batinku berkata.
Akhirnya aku mengutarakan isi hatiku. Aku mengatakan aku akan berhenti mencintainya dan pergi jauh. Tapi, apa yang kudapat lebih sakit lagi. Dia tidak menjawab apa-apa. Dia tidak menggubris sama sekali SMSku. Hancur hatiku semakin tersayat menemui kenyataan seperti ini. Tekadku semakin bulat untuk pergi jauh darinya.
Aku kemudian memulai hari-hari tanpa dia. Tetapi rasanya seperti ada yang menghilang. Ada yang kurang. Ternyata, aku sadar. Aku merindukan SMS darinya. Aku merindukan suaranya. Aku merindukan canda tawanya. Aku merindukan keisengannya. Aku merindukan motivasi yang bisa diberikannya. Aku merindukan banyak hal darinya. Aku merindukan dirinya.
AKU MENYESAL!!!